Saturday, April 8, 2017

Temperature Mapping



Apa itu temperature mapping?
Temperature mapping alias pemetaan suhu adalah pengukuran suhu ruangan dalam periode tertentu untuk menentukan titik kritis yang akan dijadikan titik pemantauan suhu harian. Lokasi yang memerlukan temperature mapping adalah tempat penyimpanan, baik itu gudang bahan baku, gudang bahan kemas, gudang produk jadi, tempat penyimpanan retained sample (sampel pertinggal), maupun chamber penyimpanan obat untuk stability study.

Mengapa perlu temperature mapping?
Temperature mapping adalah salah satu bentuk kegiatan pembuktian. Alat untuk mengukur suhu dan RH ruangan disebut termohigrometer. Termohigrometer digunakan untuk memantau suhu tempat penyimpanan sehari-hari. Tempat meletakkan termohigrometer berbeda-beda untuk setiap ruangan. Bahkan untuk dua ruangan yang ukurannya persis sama pun, lokasi penempatan termohigrometernya bisa berbeda. Dasar pemilihan lokasi penempatan termohigrometer tersebut adalah temperature mapping. Saat audit, jika ditanya, “kenapa termohigrometernya ditempatkan disitu?” tunjukkan saja dokumen temperature mapping.

Bagaimana cara melakukan temperature mapping?
Temperature mapping dapat dilakukan dengan 5 langkah mudah berikut ini.

#1 Penentuan jumlah titik sampling
Alat yang biasa digunakan untuk mengukur suhu dan RH ruangan adalah thermohygro-logger. Apa bedanya thermohygro-logger dengan termohigrometer? Thermohygro-logger dapat merekam data suhu dan RH sesuai interval waktu yang ditentukan, misalnya lima menit sekali. Data ini bisa dipindahkan ke komputer. Sementara itu, termohigrometer tidak dapat merekam data suhu dan RH. Data suhu dan RH  harus dilihat dengan mata dan dicatat manual dengan pulpen dan kertas. Perlu diingat, thermohygro-logger yang digunakan harus sudah dikalibrasi.
Jumlah titik sampling sangat ditentukan oleh panjang, lebar, dan tinggi ruangan. Ketentuannya adalah sebagai berikut.
Panjang ruangan : thermohygro-logger diletakkan setiap jarak 5 – 10 meter.
Lebar ruangan : ketentuannya sama dengan ketentuan pada panjang ruangan.
Tinggi ruangan : untuk ruangan dengan tinggi 3,6 meter atau kurang dari 3,6 meter, thermohygro-logger diletakkan di posisi atas dan bawah (top and bottom). Untuk ruangan dengan tinggi lebih dari 3,6 meter, thermohygro-logger diletakkan di posisi atas, tengah, dan bawah (top, middle, and bottom).
Contoh:
Sebuah ruangan berukuran 20 x 11 x 6 m. Maka:
Panjang:
Untuk panjang ruangan 20 m, thermohygro-logger diletakkan tiap 5 – 10 m. Kita ambil jarak terkecil yaitu ada thermohygro-logger setiap 5 m. Berarti kita butuh 3 thermohygro-logger untuk 3 titik sampling.
Lebar:
Untuk lebar ruangan 11 m, thermohygro-logger diletakkan tiap 5 – 10 m. Kita ambil jarak terkecil yaitu ada thermohygro-logger setiap 5 m. Berarti kita butuh 2 thermohygro-logger untuk 2 titik sampling.
Tinggi:
Untuk tinggi ruangan 6 m, thermohygro-logger diletakkan pada posisi atas, tengah, dan bawah. Berarti kita butuh 3 thermohygro-logger untuk 3 titik sampling.
Jumlah total titik sampling untuk ruangan tersebut adalah 3 x 2 x 3 = 18 titik sampling.

#2 Penentuan lokasi sampling
Setelah mengetahui jumlah titik sampling, langkah berikutnya adalah menentukan lokasi dari titik-titik sampling tersebut. Penentuan lokasi titik sampling harus memerhatikan hal-hal berikut:
-        Bentuk ruangan, apakah segiempat atau segiempat ditambah persegi panjang.
-        Lokasi rak dan pendingin ruangan.
-    Penempatan produk. Suhu yang dipantau selama temperature mapping cukup suhu di tempat dimana produk diletakkan, misalnya di rak. Tidak perlu memantau suhu bagian ruangan yang tidak digunakan untuk menyimpan produk, misalnya langit-langit ruangan.

Sebagai contoh, ruangan pada poin #1 di atas berisi rak setinggi 5 meter dengan panjang 16 meter. Ada 2 buah rak dengan ukuran tersebut yang disusun berbaris di dalam ruangan. Maka lokasi titik sampling yang sesuai adalah seperti gambar di bawah ini.



#3 Peletakan thermohygro-logger di lokasi sampling
Thermohygro-logger diletakkan pada lokasi yang telah ditentukan pada poin #2. Untuk ruangan yang dipengaruhi suhu di luar ruangan seperti gudang tanpa AC, thermohygro-logger diletakkan selama 7 – 10 hari. Untuk ruangan yang tidak dipengaruhi suhu di luar ruangan seperti cold room atau freezer, thermohygro-logger diletakkan selama 1 – 3 hari. Jumlah hari tersebut bisa saja lebih dari itu, disesuaikan dengan kebutuhan.

#4 Penarikan data dari thermohygro-logger
Setelah thermohygro-logger diletakkan di lokasi sampling selama sekian hari, pindahkan data suhu dan RH dari thermohygro-logger ke komputer.

#5 Pembuatan kesimpulan temperature mapping
Berdasarkan data suhu dan RH yang diperoleh, tentukan titik mana yang mengalami suhu dan RH tertinggi selama pemantauan. Gunakan titik tersebut untuk meletakkan termohigrometer untuk pemantauan suhu harian. Dengan catatan, seluruh data suhu dan RH yang diperoleh memenuhi spesifikasi. Misalnya, untuk gudang suhu kamar, persyaratan suhunya adalah tidak lebih dari 30 derajat Celcius. Jika ditemukan data suhu lebih dari 30 derajat Celcius, maka temperature mapping dinyatakan gagal. Harus dilakukan tindakan perbaikan kemudian dilakukan pula temperature mapping ulang.

Apakah pemantauan harus dengan RH, atau cukup suhu saja?
Tergantung bahan/produk yang disimpan di dalam ruangan yang akan dilakukan temperature mapping. Beberapa bahan/produk harus disimpan pada RH terkontrol, misalnya cangkang kapsul. Dalam hal ini, temperature mapping dilakukan dengan memantau suhu dan RH (relative humidity). Jika bahan/produk yang disimpan di dalam ruangan tidak membutuhkan RH terkontrol, maka RH ruangan tidak perlu dipantau.

Referensi:
WHO, 2011, Technical supplement to WHO Technical Report Series No. 961: Temperature mapping of storage areas. Soft file referensi ini dapat didownload disini.


No comments:

Post a Comment