Saturday, January 16, 2016

Sejarah Apotek yang Nggak Pernah Dijelasin Dosen

Jauh sebelum peradaban Barat mengenal apotek, masyarakat Islam lebih dulu menguasainya. Menurut Sharif Kaf al-Ghazal, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Saat itu, Baghdad sudah menjadi ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka obat-obatan.

Abu Ja’far Al-Ghafiqi (wafat 1165 M) berjasa sekali dalam memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan, dituliskannya dalam kitab Al-Jami’ Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodelogi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.

Sementara di Eropa, Apotek baru mulai menyebar setelah  pada abad ke-15 hingga ke-19 M. Bahkan orang Barat juga mengakui kenyataan ini. ''Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat,'' ungkap Howard R Turner dalam bukunya bertajuk  Science in Medievel Islam.

Perkembangan dunia farmasi pada era kekhalifahan Islam sangat pesat. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar. 



Bahkan para apoteker pada masa itu sudah memikirkan keamanan obat. Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib - semacam badan pengawas obat-obatan - mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan. Pengawasan super ketat dilakukan semata-mata  untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. 

Tahu Pharmacopeia? Siapa yang menyusunnya pertama kali? Ternyata orang hebat itu adalah Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), seorang dokter muslim.

Siapa yang menyusun peran dan fungsi apoteker? Dialah al-Biruni. Tidak hanya itu, dalam bukunya, Kitab al-Saydalah ( Buku tentang Obat-obatan), ia juga menjelaskan berbagai peralatan untuk membuat obat-obatan.

Tahu buku De Medicinis universalibus et particularibus dan   Medicamentis simplicibus? Terdengar seperti buku yang ditulis oleh orang Latin ya? Ternyata buku aslinya ditulis oleh dua apoteker muslim al-Maridini dan Ibnu al-Wafid (1008-1074). Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin lebih dari 50 kali!

Siapa yang nilai Farmakologi-nya jelek? Hahaha. Tahukah kamu? Buku farmakologi pertama di dunia ditulis oleh  Jabir bin Hayyan.

Kalau Ibnu Sina sih semua pasti udah tahu ya? Ibnu Sina  alias Avicenna menulis tak kurang dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat -obatan tersebut.  Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi itu dituliskannya dalam bukunya yang sangat monumental  Canon of Medicine. Lain kali kita bahas isi bukunya ya!

Di Indonesia masih ada Fakultas Farmasi yang masih menyatu dengan Fakultas Kedokteran nggak ya? Di era Kekhalifahan Abbasiyah, dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran. Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat farmakolog menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri.

Refference:

http://www.republika.co.id/berita/shortlink/48652

Saturday, January 9, 2016

Al-Qanun Fi Al-Tibb

Itulah judul buku yang ditulis oleh Ibnu Sina sekitar 10 abad yang lalu. Ilmu medis yang terkandung di dalamnya adalah suatu keajaiban dunia. Bagaimana tidak, isi buku tersebut masih relevan dengan perkembangan dunia masa kini dan bahkan masih digunakan oleh universitas-universitas masyhur dunia sampai detik ini!

Saya ingin mengajak Anda mengintip sedikit keajaiban dalam buku Ibnu Sina tersebut.

Segala sesuatu yang ada di alam ini terdiri dari 4 macam elemen yaitu udara, air, api, dan bumi.

Segala sesuatu yang ada di alam ini mempunyai 4 macam karakter yaitu panas, kering, dingin, dan basah.

Contohnya tidur. Menurut Ibnu Sina, tidur memiliki karakter dingin. Maka segala sesuatu yang memiliki karakter panas akan mengganggu tidur. Misalnya cahaya. Cahaya bersifat panas. Suara juga bersifat panas. Maka untuk mendapatkan kualitas tidur yang optimal, kamar tidur harus gelap dan hening.

Hal ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern tentang tidur, yang menyebutkan bahwa manusia terbangun di pagi hari ketika suhu tubuh mereka mulai meningkat dari titik terendah (memanas) dan tertidur di malam hari ketika suhu tubuh mereka mulai menurun dari titik tertinggi (mendingin). Jadi, suhu tubuh manusia ketika tidur adalah dingin (menurun). Sesuai dengan pendapat Ibnu Sina, tidur bersifat dingin.

Maka makanan yang membuat suhu tubuh menjadi dingin dapat digunakan untuk mempermudah tidur. Misalnya stroberi.

Sekian pembahasan singkat tentang tidur menurut Ibnu Sina. Sebagian kecil dari keajaiban yang terdapat dalam buku tersebut.

Refference:
Minae, et. al., 2013, Temperament Determination of Melatonin: A Bridge from Iranian Traditional to Modern Sleep Medicine, Afr J Tradit. Compelement Altern. Med. 10(2): 340-342.

Saturday, January 2, 2016

Siapakah Apoteker?

Semua orang tahu siapa itu dokter, perawat, ataupun dokter gigi. Tapi apoteker, tidak semua orang tahu. Kali ini saya ingin menjelaskan tentang apa itu apoteker.

Apoteker ada dua macam yaitu apoteker industri dan apoteker klinis. Apoteker industri adalah apoteker yang mengurusi pembuatan obat di pabrik. Ada yang di bagian produksi, quality control, quality assurance, research and development, dan sebagainya. Apoteker industri juga mengurusi distribusi obat dari pabrik ke pengecer.

Nah, kalau apoteker klinis, mereka mengurusi penyerahan obat ke pasien. Dari menganalisa kesesuaian obat dengan penyakit penderita, mengecek kebenaran dosisnya, sampai memberi penjelasan cara mengkonsumsi suatu obat dengan baik kepada para pasien. Biasanya mereka bekerja di apotek, klinik, puskesmas, atau rumah sakit.

Apakah apoteker klinis punya hubungan dengan dokter? Punya banget.

Menurut Lestari (2002), ada hubungan timbal balik antara dokter, apoteker, dan pasien pada setiap pengobatan. Ketiganya memiliki tugas masing-masing.



Dokter:
- melakukan diagnosis
- menulis resep

Pasien:
- menyampaikan keluhan
- disiplin terhadap petunjuk dokter dan apoteker

Apoteker:
- membaca dan menganalisis resep
- menyerahkan obat
- membuat atau menyediakan obat

So, jelas ya? Dokter melakukan diagnosis dan menulis resep. Apoteker yang membaca dan menyiapkan serta menyerahkan obat berdasarkan resep tersebut.

Sekian pembahasan tentang apoteker. Semoga bermanfaat :)

Referensi:
Lestari, C.S. Seni Menulis Resep Teori dan Praktek. PT. Perca, Jakarta, 2002

Susu Kuda Sumbawa Berkhasiat Antijerawat!

Siapa tak kenal Cleopatra? Ratu cantik itu suka sekali mandi susu. Tak kalah, kita juga punya susu khas Indonesia yang TERNYATA berkhasiat untuk kecantikan.

Selama ini susu kuda sumbawa dikenal berkhasiat menjaga kebugaran, stamina dan daya tahan tubuh. Tahukah kamu, ternyata susu kuda sumbawa juga dapat mengusir jerawat lho! Di bawah ini saya bahas secara singkat ya, penelitiannya. Kalau kamu tertarik, silakan teruskan dengan membaca laporan penelitian aslinya disini: SusuKudaSumbawa.pdf

Jika kamu tertarik melakukan penelitian mengenai antijerawat, penelitian berikut bisa jadi referensi buat kamu. Pada penelitian ini digunakan susu kuda sumbawa. Bakteri yang digunakan adalah Staphylococcus epidermidis (salah satu bakteri penyebab jerawat). Metode yang digunakan adalah uji kontak. Kamu bisa lakukan penilitianmu sendiri menggunakan bahan alam yang berbeda, misal dari tumbuhan, bukan susu, lalu kamu bisa gunakan bakteri dan metode yang sama persis dengan penelitian berikut ini. Atau kamu bisa gunakan susu kuda sumbawa juga dengan bakteri lain yang juga dapat menimbulkan jerawat. Dalam penelitian ini juga ada beberapa kelemahan. Penelitinya dengan jujur menyampaikan rekomendasi penelitian pelengkap dalam tulisannya (bisa didownload karya tulis ilmiahnya pada link di atas). Nah, kamu bisa melakukan penelitian yang direkomendasikan tersebut. Tertarik? Simak ulasan singkat penelitian berikut ini.

Susu kuda  Sumbawa  aktif  sebagai antibakteri  terhadap  bakteri  Staphylococcus epidermidis  dengan  metode  uji  kontak  dan  difusi padat.

Pendahuluan

Susu  kuda  Sumbawa  mempunyai  aktivitas anti  mikroba  yang  paling  baik  saat  diujikan terhadap beberapa bakteri uji, dengan pembanding  susu  sapi  dan  susu  kuda  bukan Sumbawa.  Sifat  antimikroba  dalam  susu  kuda Sumbawa  mempunyai  spektrum  yang  luas,  dan ternyata  bakteri  Gram  positif  lebih  sensitif dibandingkan  Gram  negatif  (Hermawati  et  al., 2004).

Metode Penelitian

Dilakukan  uji  kontak  susu  kuda  Sumbawa (konsentrasi  susu  kuda  Sumbawa  dibuat 25%,  12,5%,  6,25%,  3,125%) dengan  bakteri  uji  untuk mengetahui  pengaruh  jumlah  koloni  bakteri  uji (Staphylococcus epidermidis). Caranya, sebanyak  100  μL suspensi  bakteri  uji  (Standard  Mc  Farland  108) dikontakkan  dengan  900  μL  susu  kuda  Sumbawa selama  5  menit.  Campuran  sampel  dan bakteri  uji  setelah  kontak  lalu  diencerkan  dengan larutan  fisiologis  sebelum  ditanam  pada  media TSA.  Selanjutnya  diinkubasi  selama  24  jam  pada suhu  370C.  Pengamatan  dilakukan  dengan menghitung  jumlah  koloni  bakteri  uji  yang tumbuh lalu dilihat  konsentrasi  minimum sampel  yang  masih  menunjukkan  presentase penurunan  jumlah  koloni  bakteri  uji. Kontrol yang digunakan  adalah  aquadest  pH  3,5  yang disesuaikan  keasamannya  dengan  pH  susu  kuda Sumbawa.

Hasil Penelitian

Presentase  jumlah  koloni  bakteri  uji yang  mati  menunjukkan  angka  yang  sangat  bagus, berturut-turut  dari  konsentrasi  25%,  12,5%, 6,25%  dan  3,125%  sebesar  99,94%,  99,99%, 99,76% dan  99,73%.  Hasil  uji statistik  menunjukkan  bahwa  data  terdistribusi normal,  uji  kesamaan  variansi  terpenuhi  dan memberikan  informasi  bahwa  susu  kuda Sumbawa  pada  konsentrasi  3,125%  menghasilkan jumlah  koloni  terbanyak  (disusul  kemudian konsentrasi  6,25%, 25% dan  12,5%). Jumlah  koloni  yang  masih  hidup  terbanyak memberikan  pengertian  bahwa  presentase  bakteri uji  yang  mati  paling  sedikit,  artinya  aktivitas antibakterinya  kurang  bagus.  Namun,  pada penelitian  ini  presentase  kematian  koloni  bakteri uji  yang  paling  sedikit  adalah  99,73%.  Angka tersebut menunjukkan  bahwa  susu  kuda Sumbawa  mampu  membunuh  koloni  bakteri  uji sebesar  99,73%  dari  populasi  bakteri  uji. Berdasarkan  hasil  uji  ini,  bisa  dilakukan  penelitian lebih  lanjut  dengan  peningkatkan  pengenceran susu kuda  Sumbawa.
Perbedaan yang tidak signifikan terjadi antara jumlah koloni bakteri uji (yang hidup) setelah kontak dengan kontrol aquadest dan aquadest pH 3,5. Hal ini menunjukkan bahwa keasaman tidak terlalu berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri.


Karya tulis ilmiah ini dibual oleh Fauzia  Nur  Laili,  Erna  Prawita  Setyowati dan  Susi  Iravati dengan judul  SUSU KUDA SUMBAWA KHAS INDONESIA   BAHAN KOSMETIK ANTIBAKTERI JERAWAT (Staphylococcus epidermidis). Dimuat dalam Traditional Medicine Journal (Trad.  Med.  J) edisi May  2014 Vol.  19(2) halaman 76-81.

Kunyit Asem, Jamu Kampung Berkhasiat Luar Biasa

Siapa yang nggak tahu jamu kunyit asem? Pasti semuanya pernah nyobain. Tahukah kamu, ternyata jamu kampung ini terbukti berkhasiat mengobati diabetes lho! Luar biasa ya, ramuan warisan nenek moyang kita itu! Penelitian tentang khasiat kunyit asem teraebut dilakukan oleh Mohamad Andrie, Wintari Taurina dan Rizqa Ayunda. Judul laporannya UJI AKTIVITAS JAMU GENDONG KUNYIT ASAM (Curcuma domestica Val.; Tamarindus indica L.) SEBAGAI ANTIDIABETES PADA TIKUS YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN dimuat dalam Traditional Medicine Journal (Trad. Med. J.) Edisi May 2014 Vol. 19(2) halaman 97-104. Saya bahas secara singkat ya. Untuk lengkapnya kamu bisa baca di laporan penelitian aslinya, download di KunyitAsem.pdf

Jika kamu tertarik melakukan penelitian sejenis, kamu bisa gunakan jamu-jamu lain, lalu lakukan penelitian dengan metode yang persis sama dengan penelitian ini. Atau kalau kamu mau melanjutkan penelitian ini juga boleh. Misalnya kamu bisa lakukan uji toksisitas jamu kunyit asam. It's not so difficult to find an idea for experiment.



Metode  induksi  streptozotocin  dapat menyebabkan  terjadinya  diabetes  pada  hewan  uji. Jamu  gendong  kunyit  asam  memiliki  aktivitas antidiabetes pada  tikus  yang  diinduksi streptozotocin.

Pendahuluan
Diabetes  mellitus  merupakan  suatu  kondisi gangguan  metabolisme  yang  ditandai  dengan hiperglikemia  dan  abnormalitas  metabolisme karbohidrat,  lemak  dan  protein  yang  disebabkan oleh  penurunan  sekresi  insulin,  penurunan sensitivitas  insulin  atau keduanya  (Dipiro,  2005). Pengobatan diabetes melitus yang digunakan  dalam  dunia  kedokteran  meliputi pemberian  insulin  dan  pemberian  antidiabetik oral  seperti  golongan  sulfonylurea  dan  biguanid (Tjokroprawiro,  1996).  Namun  penggunaan  obatobat  tersebut  dalam  jangka  waktu  yang  lama dapat  menyebabkan  kerusakan  organ-organ penting  seperti  pankreas,  ginjal  dan  hati. Pengobatan  dengan  menggunakan  tanaman  obat tradisional merupakan  pilihan  pengobatan alternatif  yang  dapat  digunakan,  salah  satunya yaitu  jamu. Jamu  gendong  kunyit  asam  dapat  dijadikan pilihan pengobatan  alternatif  yang  dapat digunakan  dalam  pengobatan  diabetes  mellitus. Jamu  yang  berasal  dari  sari  kunyit  dan  sari  asam ini mempunyai  aktivitas  antioksidan  karena mengandung  senyawa  fenolik  (Yusup,  2001).

Metode Penelitian
Streptozotocin  diberikan  sekali  secara intraperitonial  pada  masing-masing  hewan  coba. Streptozotocin akan membuat hewan uji mengalami diabetes.Kemudian  3  hari  setelah  diinduksi  kadar  glukosa darah hewan uji diukur. Dua  puluh  lima  tikus  (Rattus  norvegicus) wistar  jantan  dibagi  ke  dalam  lima  kelompok secara  acak.  Kelompok  I  adalah  kelompok  normal tanpa  diberi  perlakuan  hanya  diberikan  CMC  1% satu  kali  sehari,  kelompok  II,  III,  IV  dan  V  adalah kelompok  kontrol  streptozotocin,  kelompok kontrol  glibenklamid¸  kelompok  dosis  1  (1,90  ml/ 200gBB)  dan kelompok  dosis  II  (3,80  ml/  200gBB) yang  diinduksi  streptozotocin  (7  mg/  200gBB)  dan diberikan  perlakuan  masing-masing  CMC  1%  satu kali  sehari,  glibenklamid  (0,27  mg/  200gBB) satukali  sehari,  jamu  gendong  kunyit  asam  dengan dosis  1,90  dan  3,80  ml/  200gBB  dua  kali  sehari pada  pagi  dan  sore  hari.  Masing-masing  kelompok diberi  pakan  dan  minum  yang  sama  setiap  harinya selama  28 hari.  
Kadar  glukosa  darah  tikus  percobaan ditentukan dengan metode enzimatik menggunakan  alat  Blood  glucose  Test  Meter GlucoDr™  model  AGM-2100  (diproduksi  oleh Allmedicus  Co  Ltd.,  Korea.  Kadar  glukosa  darah diukur  pada  hari  ke-  0,  4,  8,  12,  16,  20,  24,  dan  28 (Suarsana  et  al.,  2010).  Pasca  penghentian perlakuan  dilakukan  pengukuran  kadar  glukosa darah pada hari ke-32 dan 36.
Dua  ekor  hewan  uji  dari  masing-masing kelompok  dieuthanasia  menggunakan  kloroform pada  hari  ke-29,  kemudian  dibedah  dan  diambil organ  pankreasnya  dan  dilakukan  pemeriksaan terhadap  gambaran  pulau  Langerhans  pankreas dengan  pewarnaan  Hematoksilin  dan  Eosin.  Hasil akhir  diamati  dibawah  mikroskop  cahaya  dengan perbesaran  400x.  Untuk  mengetahui  persen  luas area  kerusakan  dilakukan  melalui  pengamatan menggunakanan  aplikasi  imagej  dan  penghitungan dengan rumus. Analisis data menggunakan uji  paired  sample  t-test pada SPSS 17.

Hasil Penelitian

Berdasarkan  hasil  yang  diperoleh  dapat disimpulkan  bahwa  jamu  gendong  kunyit  asam dapat  digunakan  sebagai  terapi  antidiabetes karena mampu menurunkan dan mempertahankan  kadar  glukosa  darah  hingga kembali normal  dan  dapat  memperbaiki kerusakan  pulau  Langerhans  pankreas  mendekati kelompok  normal.  Jamu  gendong  kunyit  asam dosis  1  dan  dosis  2  lebih  efektif  dibandingkan dengan  glibenklamid.  Namun,  kenaikan  dosis  jamu gendong  kunyit  asam  tidak  menyebabkan peningkatan aktivitas antidiabetes yang bermakna.  Dengan  demikian,  jamu  gendong  dosis 1  (1,9  ml/  200  g  BB)  adalah  dosis  efekif  sebagai antidiabetes  karena  dosis  tersebut  dapat menurunkan  kadar  glukosa  darah  dan memperbaiki  kerusakan  pulau  Langerhans  tikus yang diinduksi streptozotocin.

Daun Randu Bisa Menumbuhkan Rambut!

Hai semuanya!
Punya rambut terlalu tipis? Ingin menyuburkan rambut? Daun randu bisa jadi solusinya. Kali ini saya akan bahas penelitian yang membuktikan bahwa daun dari pohon randu berkhasiat menumbuhkan rambut.
Kamu ingin melakukan penelitian tentang khasiat menyuburkan rambut dari suatu tumbuhan tapi bingung menentukan metodenya? Mungkin penelitian berikut ini bisa menjadi inspirasi. Langsung aja ya. Check it out!



Sari daun randu baik daun muda  maupun daun tua dapat  mempercepat pertumbuhan rambut. Tidak ada perbedaan bermakna antara sari daun muda dan daun tua dalam mempercepat pertumbuhan rambut.

Pendahuluan
Penumbuh rambut (hair tonic) adalah sediaan yang  mengandung  bahan-bahan  yang diperlukan  oleh rambut, akar rambut, dan kulit kepala (Tranggono, 1992). Penggunaan bahanbahan yang  berfungsi sebagai  penumbuh rambut (misalnya  counter irritant) dalam konsentrasi rendah  akan menyebabkan kemerahan  pada kulit  dan rasa hangat sehingga  meningkatkan  aliran darah  pada kapiler kulit (Balsam dan Sagarin, 1974). Pemanfaatan di bidang pengobatan antara  lain:  minyak dari biji untuk obat kudis dan  membantu pertumbuhan rambut, sari daun yang  masih muda dipergunakan untuk membantu pertumbuhan rambut dengan cara digosokkan pada kulit  kepala kemudian dipijit-pijit. Saponin diketahui dapat  meningkatkan aliran darah kapiler (Heyne, 1987; Perry,  1980).

Metode Penelitian
Daun  muda  dipetik dari pohonnya, diambil daun kedua  sampai ketiga dari pucuknya, sedangkan daun tua diambil dari daun  yang keempat sampai kesepuluh dari pucuknya (Soegihardjo,  1996). Kemudian dibersihkan dari kotoran  dengan cara dicuci dan ditiriskan. Sari daun muda dan daun  tua yang  sudah dibersihkan  dibuat dengan cara ditimbang, diiris-iris kecil, ditambah air suling  1/5  bagian , direndam  selama 30  menit, diremas-remas selama 15 menit, disaring. Sisa air ditambahkan pada ampas,  diremas-remas dan disaring, filtratnya dikumpulkan untuk keperluan pengujian (Heyne, 1987). Sari daun dibuat dengan kadar 2, 3,5, dan 5%.
Uji pertumbuhan rambut dilakukan dengan mengguunakan  modifikasi metoda Tanaka (Hardiati, 1986) dilakukan terhadap  3 ekor kelinci. Sebelum  uji bagian punggung  kelinci dibersihkan  rambutnya  dengan dicukur, kemudian dibagi  menjadi 6 bagian, 3 di  bagian kanan  dan  3  di bagian  kiri. Tiap  bagian berbentuk bujur sangkar dengan sisi 3 cm. Pada  3  kotak di bagian kiri diolesi air, sari daun tua, dan sari daun  muda, demikian  juga 3 kotak di bagian kanan. Pengolesan pada tempat-tempat tersebut dilakukan setiap dua hari sekali pagi dan sore. Pengukuran  panjang rambut dilakukan  dengan menggunakan mikrometer  setiap tiga hari sekali dimulai pada hari ketiga sampai dengan hari ke delapan belas. Pertumbuhan rambut dihitung   sebagai AGD (Average  Growth Daily-Gain) dari panjang  rambut pada  hari ke 18  dikurangi panjang hari ke 3, kemudian dibagi 15. Setelah itu dilakukan uji t dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasil Penelitian
Pertumbuhan rambut pada bagian yang diolesi sari daun randu lebih cepat daripada bagian yang hanya diolesi air. Dari hasil uji t, ada perbedaan bermakna untuk  sari daun randu muda dengan  air, ada perbedaan bermakna untuk  sari daun randu tua dengan air, dan tidak ada  perbedaan bermakna antara sari daun muda dan daun tua.

Gimana, tertarik untuk baca laporan penelitian aslinya? Silakan download disini ya pdf nya DaunRandu.pdf

Penelitian tersebut dilakukan oleh Marchaban,  C.J. Soegihardjo,  dan F.E.  Kumarawati. Judulnya UJI AKTIVITAS SARI DAUN RANDU (Ceiba pentandra  Gaertn.)  SEBAGAI PENUMBUH RAMBUT. Dimuat di Traditional Medicine Journal Volume 12 tahun 2007.


Jangan Remehkan Petai!

Banyak orang nggak suka petai karena baunya. Tapi tahukah kamu, ternyata petai memiliki khasiat penambah darah. Bagus untuk dikomsumsi oleh penderita anemia alias kurang darah. Berikut saya bahas secara singkat tentang penelitian yang membuktikan khasiat petai tersebut. Jika kamu tertarik, kamu bisa baca laporan penelitian aslinya disini: BijiPetai.pdf

Jika kamu sedang bingung mencari ide penelitian, kamu bisa gunakan bahan alam lain, lalu lakukan penelitian antianemia dengan metode yang persis sama dengan penelitian berikut ini. Penelitian berikut ini juga masih punya beberapa kelemahan. Si peneliti dengan jujur menuturkan rekomendasi penelitian untuk menutupi kelemahan-kelemahan itu. Nah, lalu kamu bisa melakukan penelitian rekomendasi itu agar peneletian berikut menjadi sempurna. Sederhana bukan?



Petai  (Parkia  speciosa  Hassk)  berpotensi sebagai  antianemia.  Ekstrak  petai  (Parkia  speciosa Hassk)  mengandung  kadar  rata-rata  zat  besi sebesar  118,091±2,215  ppm.  Ekstrak  petai  (Parkia speciosa  Hassk)  mampu  meningkatkan  kadar hemoglobin pada tikus yang menderita anemia.

Pendahuluan

Anemia Gizi Besi (AGB) adalah anemia     yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh,  sehingga   kebutuhan  zat besi   (Fe)   untuk eritropoesis tidak cukup. AGB ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom- mikrositer, kadar besi serum (Serum iron = SI) dantransferin jenuh menurun, Kapasitas ikat besi total (Total Iron Binding Capacity = TIBC) meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain sangat  kurang   atau   tidak   ada   sama    sekali  (Fairbanks dan Beatler, 1998; Lee et al., 2006). Solusi  untuk  mengatasi  anemia  yang  ada saat  ini  yaitu  dengan  penggunaan  suplemen  yang mengandung  zat  besi.  Suplemen  zat  besi  tersebut mempunyai  efek  samping  jika  digunakan  terus menerus  yaitu  terjadinya  konstipasi  yang  akan berakibat mengganggu selanjutnya kenyamanan dan akan  menyebabkan  hemoroid. Alternatif  lain  adalah  dengan  menggunakan  bahan alam,  salah  satunya  adalah  dari  petai.  Petai  dapat menjadi  solusi  karena  mengandung  zat  besi  yang tidak  hanya  dapat  mengobati  anemia  tetapi  juga tidak  akan  menyebabkan  efek  samping  berupa konstipasi  karena  petai  mengandung  banyak  serat.

Metode Penelitian

Biji  petai  (Parkia  speciosa)  yang dipotong-potong  menjadi  3-4 bagian  secara  melintang dimasukkan  kedalam  oven  untuk dikeringkan  dengan  suhu  60ºC  selama  ±2hari. Simplisia  kering diserbuk dengan penggiling ukuran lubang 1,5mm. Rendam dengan etanol  30% (maserasi) perbandingan  1:5 selama  3  hari  dengan  sesekali  diaduk. Remaserasi dengan etanol  30% perbandingan  1:3  selama 2  hari. Filtrat diuapkan menggunakan  penangas  air. Ekstrak  kental  yang  diperoleh dikeringkan dengan alat freeze dryer. Kandungan  zat  besi  di  dalam  ekstrak  diukur dengan metode Atomic Absorption  Spectrophotometry.

Ekstrak  simplisia  biji  petai diujikan  secara  in  vivo  pada hewan  percobaan  yang  telah  diadaptasi  selama 1 minggu.  Sebanyak  27  ekor  tikus  yang  telah dibuat  anemia  dengan  induksi  NaNO2  dosis 187.5mg/kgBB     dibag i  menjadi  6    kelompok. NaNO2  bekerja  dengan  mengubah  kemudian mengoksidasi  ion  Fe2+  (ferro)  dalam  hemoglobin (Hb)  dan  mengubahnya  menjadi  ion  Fe3+  (ferri) sehingga  terjadi  pembentukan  methemoglobin yang  tidak  lagi  mampu  sebagai  pembawa  oksigen ke  jaringan-jaringan.  Tiap kelompok diberi  perlakuan  yang  berbeda selama  14  hari.
Kelompok 1(normal): tidak diberi apapun (kontrol normal)
Kelompok 2 (anemia): Sangobion (kongr positif)
Kelompok 3 (anemia): CMC Na 0,5% + Sampel dosis 400mg/KgBB (dosis 1)
Kelompok 4 (anemia): CMC Na 0,5% + Sampel dosis 550mg/KgBB (dosis 2)
Kelompok 5 (anemia): CMC Na 0,5% + Sampel dosis 700mg/KgBB (dosis 3)
Sampel darah diambil dari hewan uji (Rattus norvegicus) pada setiap kelompok percobaan melalui pembuluh darah vena pada mata dengan menggunakan pipa kapiler. Pengambilan sampel darah dilakukan sebanyak 3 kali, yakni sebelum perlakuan, setelah pemberian senyawa NaNO2 dan setelah perlakuan. Pada setiap pencuplikan, pengujian kadar hemoglobin dalam sampel darah dilakukan dengan menggunakan alat Automated Hematoloy Analyzer. Hasil ini kemudian dihitung secara statistik dan dilakukan pembandingan dengan nilai hemoglobin normal (12,48gr/dl – 14,63gr/dl). Analisis data yang digunakan adalah One Sampel t-Test, Normality Test, dan ANOVA dengan menggunakan program SPSS 17.0 for windows.

Hasil Penelitian

Ekstrak  petai  (Parkia  speciosa Hassk)  mengandung  kadar  rata-rata  zat  besi sebesar  118,091±2,215  ppm. Dari hasil perhitungan statistik, didapatkan bahwa peningkatan kadar hemoglobin pada hewan uji dengan perlakuan berbeda bermakna dengan kontrol normal (p > 0.05).  Sehingga, secara statistik dapat dibuktikan  bahwa  perlakuan  dengan  ekstrak  biji petai  mampu  meningkatkan  kadar  hemoglobin pada  hewan  uji  dibandingkan  dengan  kontrol normal. Tidak  tampak  perbedaan  yang  cukup berarti  diantara  dosis  I,  II  dan  III.  Hal  ini  tercermin pada  uji  ANOVA  yang  mengukur  level  signifikansi diantara  tiap  kelompok  perlakuan.  Secara  angka, dosis  I  (400  mg/KgBB)  memiliki  perubahan  yang paling  besar  apabila  dibandingkan  dengan  dosis  II (550mg/kgBB)  dan  dosis  III  (700mg/kgBB). Namun  secara  statistik,  perbedaan  tersebut  tidak cukup  bermakna  dengan  taraf  kepercayaan  (p  > 0,05),  sehingga  dapat  dikatakan  bahwa  ketiga dosis  tersebut  memiliki  efek  farmakologis  yang sama.  Hal  ini  berarti  bahwa  tidak  ada  korelasi antara  peningkatan  dosis  ekstrak  dengan  efek farmakologis,  dan  dosis  optimum  diantara  ketiga dosis  tersebut  tidak  dapat  ditentukan.

Karya tulis ilmiah ini dibuat oleh Shella Nursucihta, Hanifah Ataina Thai’in, Denade Mawlidya Putri, Dwijayanti Ngesthi Utami and  Andayana Puspitasari Ghani dengan judul UJI AKTIVITAS ANTIANEMIA EKSTRAK ETANOLIK BIJI Parkia speciosa Hassk. Dimuat di Traditional Medicine Journal (Trad. Med. J.) edisi May 2014 Vol. 19(2) halaman 49-54.